Saturday, November 16, 2013

MANAJEMEN BETERNAK KERBAU PERAH

Standard


 A. Asal Usul Kerbau
Domestikasi kerbau di India dimulai 5000 tahun yang lalu di lembah sungai Indus dan di Cina kira-kira 1000 tahun selah di India. Kerbau yang telah dijinakkan termasuk anggota sub-famili Bovinae di dalam genus Bubalus yang dibagi dalam 4 sub genus yaitu:
a.      Bubalus caffer (Kerbau Afrika)
b.      Bubalus bubalis (Kerbau Asia)
c.      Bubalus mindonensis (Kerbau Mindora) 
d.        Bubalus depressicornis (Kerbau mini Sulawesi = Anoa)   
B.     Susu Kerbau
Susu kerbau lebih banyak mengandung lemak dan protein dari susu sapi. Rasa susu kerbau lebih pekat karena mengandung lebih 16 % bahan kering (total solid) dibandingkan susu sapi hanya 12 – 14 %. Kadar lemak susu kerbau 50 – 60 % lebih banyak dari susu sapi (6 – 8 % vs 3 – 5 %). Protein susu kerbau lebih banyak mengandung casein dan sedikit lebih albumin dan globulin dari susu sapi. 
Susu kerbau kurang mengandung carotene (pro-vitamin A) dan warna susu kerbau lebih putih dari susu sapi. Kandungan vitamin A dalam susu kerbau hampir sama dengan susu sapi. Tampaknya kerbau telah merubah carotene makanan menjadi vitamin A di dalam susu. Susu kerbau mengandung vitamin B kompleks dan vitamin C sama dengan pada susu sapi, hanya kadar riboflavin susu kerbau lebih sedikit dari susu sapi. 
C.     Pemeliharaan Anak Kerbau
Pemeliharaan anak kerbau jantan harus dilakukan untuk kelak menjadi pejantan, sedangkan pemeliharaan anak kerbau betina untuk dibesarkan guna kelak menjadi pengganti induk. Mortalitas kerbau pada umur muda tinggi dan untuk mengurangi kematian anak, perlu dilakukan pemeliharaan anak yang baik. 
D.     Pemelihataan Kerbau Dara
Kerbau dara perlu mendapat perhatian karena sangat mempengaruhi penampilan produksi. Kerbau dara yang mendapat pemeliharaan yang baik dapat dikawinkan pada umur sekitar 30 – 36 bulan dengan bobot badan 300 – 350 kg. Akan tetapi pada kondisi pemeliharaan dan makanan yang tidak baik perkawinan pertama baru bisa dilakukan pada umur di atas 44 bulan. 
E.     Pemeliharaan Kerbau Bunting dan Beranak (Laktasi)
Perhatian khusus dalam pemeliharaan kerbau bunting adalah penting, begitu juga pada waktu beranak supaya kerbau dalam keadaan menyenangkan. Pada Peternakan kerbau perah yang mendapat pemeliharaan yang baik, berahi pertama dicapai pada umur 30 – 36 bulan dan lama bunting 310 + 5 hari.
F.     Pemeliharaan Kerbau Kering
Lama laktasi kerbau perah bervariasi dari 8 – 10 bulan dan selang beranak 12 – 18 bulan. Jadi kerbau kering harus dipelihara dengan baik selama 2 – 8 bulan atau rata-rata 5 bulan sebelum melahirkan. Dengan pastura yang baik, kerbau yang mengalami masa kering tidak perlu diberikan makanan konsentrat. Pada pastura yang baik lama kerbau merumput setiap hari cukup 6 – 8 jam dimana kerbau bunting (masa kering) tersebut telah terpenuhi kebutuhannya, tetapi pada keadaan pemberian rumput yang berkualitas rendah, maka perlu diberi pakan tambahan (konsentrat) sebanyak 2 – 3 kg per ekor per hari. 
G.    Pemeliharaan Kerbau Pejantan
Pejantan harus dipelihara dalam kondisi tatalaksana yang optimum sejak dari lahir agar pejantan tersebut jinak dan baik pertumbuhannya. Setelah berumur 9 – 10 bulan pejantan yang terpilih dikandangkan secara individual pada kandang pejantan. 
H. Pemeliharaan Anak Kerbau Jantan
 Dalam kedaan normal anak kerbau jantan dibiarkan bebes menyusui pada induknya selama 3 – 5 hari setelah lahir, selanjutnya anak kerbau diberi kesempatan menyususi pada induknya hanya 2 – 3 menit pada saat sebelum diperah untuk merangsang keluarnya air susu. Bobot lahir pada anak kerbau jantan rata-rata 30 kg, dengan pemeliharaan yang kurang baik bobot badan pada umur 1 tahun hanya mencapai 100kg. Tetapi pada anak kerbau jantan yang akan dipakai sebagai bibit dipelihara dan diberi makanan yang baik sesuai dengan kebutuhannya sehingga dapat mencapai bobot badan 250 – 300 kg pada umur 24 bulan, dan dapat diambil semennya untuk I.B. Pada umumnya pengambilan semen kerbau jantan dimulai pada umur 30 bulan. 





















1 komentar: