Thursday, May 9, 2013

PENYAMAKAN KULIT

Standard


A.  Latar Belakang
Pemanfaatan kulit ternak /hewan untuk kepentingan manusia itu  berjalan searah dengan perkembangan peradaban manusia. Dari keseluruhan produk sampingan hasil pemotongan ternak, maka  kulit merupakan produk yang memiliki nilai ekonomis yang paling tinggi.  Berat kulit pada sapi, kambing  dan kerbau memiliki kisaran 7-10% dari berat tubuh Secara ekonomis kulit memiliki harga berkisar 10-15% dari harga ternak .
Potensi hasil ikutan berupa kulit di Indonesia masih sangat besar, hal ini disebabkan masih sedikitnya industri besar yang mengelola secara intensif.  Kalaupun ada kapasitasnya belum mampu memenuhi permintaan pasar.  Sebagai contoh industri kulit hanya mampu menghasilkan 350.000.000 sqft/tahun sedangkan permintaan untuk industri alas kaki maupun untuk barang jadi sebesar 673.000.000 sqft/tahun sehingga setiap tahunnya  terjadi kekurangan 323.000.000 sqft.    
Apakah mutu kulit mentah maupun kulit awetan yang dihasilkan oleh masyarakat di dalam negeri sudah memenuhi standar yang sesuai atau paling tidak telah mendekati standar kualitas yang telah ditetapkan .  Sebuah fenomena yang patut kita ingat bahwa pada saat industri perkulitan mengalami kejayaan pesat, ekspor kulit samak (leather) merupakan sumber devisa negara non migas selain kayu, tekstil dan elektronik.  Berdasarkan gambaran tersebut, tentunya banyak hal yang harus dikaji dan terpulang kepada, bagaimana perkembangan ilmu dan teknologi pengolahan kulit ke depan serta kualitas SDM peternakan yang dimiliki. Hal inilah yang melatar belakangi dilakukannya praktikum penyamakan kulit agar kita mengetahui bagaimana cara yang dilakukan untuk mengolah kulit mentah menjadi tahan dan lebih awet.
   
B.  Tujuan Dan Kegunaan
Tujuan dilakukannya praktikum penyamakan kulit adalah untuk mengetahui bagaimana cara atau tahapan-tahapan yang dilakukan untuk mengawetkan kulit mentah menjadi kulit tersamak yang lebih tahan dan lebih awet.
Kegunaan dilakukannya praktikum penyamakan kulit adalah dengan mengetahui bagaimana membuat sebuah kulit mentah menjadi kulit tersamak yang tahan dan awet maka kita dapat membuat produk-produk kebutuhan sehari hari yang bernilai ekonomi tinggi seperti sepatu, tas dan jaket dari kulit, sehingga bisa memberi peningkatan pendapatan.
                                                                                                 







TINJAUAN PUSTAKA
A.  Tinjauan Umum Kulit
Kulit merupakan salah satu jenis hasil ternak yang sekarang ini telah dijadikan sebagai suatu komoditi perdagangan dengan harga yang cukup tinggi. Hal ini dapat dilihat dari data statistik nilai ekspor kulit Indonesia, dimana pada tahun 2008 nilai ekspor kulit mencapai 7,600 kg dengan harga jual US$ 100,000,000. Nilai ekspor yang tinggi ini dapat memberi keuntungan yang cukup baik bagi industri kulit yang ada di Indonesia. Pada umumnya kulit dimanfaatkan sebagai bahan pembuat sepatu, jaket, dompet, ikat pinggang serta masih ada beberapa produk-produk lain yang memanfaatkan kulit sebagai bahan bakunya, seperti kerupuk kulit dan gelatin untuk bahan pangan ( Anonim, 2013).
Komoditas kulit digolongkan menjadi kulit mentah dan kulit samak (Purnomo, 1985) dalam Anonim (2013). Menurut Judoamidjojo (1974) dalam Anonim (2013) , kulit mentah adalah bahan baku kulit yang baru ditanggalkan dari tubuh hewan sampai kulit yang mengalami proses-proses pengawetan atau siap samak. Kulit mentah dibedakan atas kulit hewan besar (hides) seperti sapi, kerbau, steer, dan kuda, serta kelompok kulit yang berasal dari hewan kecil (skins), seperti kambing, domba, calf , dan kelinci termasuk di dalamnya kulit hewan besar yang belum dewasa seperti kulit anak sapi dan kuda (Purnomo, 1985) dalam anonim ( 2013).
Terdapat 2 jenis kulit yaitu kulit berkelas yang bebas dari pewarna dan tidak mengandung metal lebih besar dari 62,5 ppm, sedangkan kulit samak adalah kulit setengah jadi sebagai bahan baku untuk industri sepatu atau garmen.  Penyamakan kulit terdiri atas banyak proses yang saling berurutan. Pada saat kulit mentah (rohet) memasuki proses awal, akan diseleksi untuk menghasilkan (menyisihkan) kulit berkelas. Tahapan proses dilakukan dalam drum yang berkapasitas memproses 400 – 600 lembar kulit sekaligus. Penyamakan dilakukan untuk mengubah kulit mentah yang mudah rusak oleh aktivitas mikroorganisma, proses kimia maupun fisik menjadi kulit tersamak yang lebih tahan terhadap faktor-faktor perusak tersebut. Yaitu dengan memasukkan bahan penyamak ke dalam jaringan kulit yang berupa jaringan kolagen sehingga terbentuk ikatan kimia antara keduanya menjadikan lebih tahan terhadap faktor perusak.  Zat penyamak bisa berupa penyamak nabati, sintetis, mineral, dan penyamak minyak.
B.  Penyamakan kulit
 Penyamakan kulit pada prinsipnya adalah suatu tehnik untuk mengubah kulit mentah mentah. Kulit samak adalah kulit hewan yang dikerjakan sedemikian rupa sehingga lebih bersifat permanen, tahan terhadap dekomposisi bila basah dan bersifat lemas bila kering (Judoamidjojo, 1981) dalam Ningrum (2013).
Menurut Anonim (2009) Penyamakan kulit terdiri atas banyak proses panjang, dan garis besarnya dibagi 3 proses utama yaitu proses awal (beam house atau proses rumah basah), proses penyamakan, dan finishing. Proses awal terdiri atas perendaman (untuk mengembalikan kadar air yang hilang selama proses pengeringan sebelumnya, kulit basah lebih mudah bereaksi dengan bahan kimia penyamak, membersihkan dari sisa kotoran, darah, garam yang masih melekat pada kulit), pengapuran (membengkakan kulit untuk melepas sisa daging, menyabunkan lemak pada kulit, pembuangan sisik, pembuangan daging, pembuangan kapur (deliming) (untuk menghilangkan kapur dan menetralkan kulit dari suasana basa, menghindari pengerutan kulit, menghindari timbulnya endapan kapur), pengikisan protein, pengasaman (pickle) (untuk memberikan suasana asam pada kulit sehingga lebih sesuai dengan senyawa penyamak dan kulit lebih tahan terhadap seranga bakteri pembusuk).
Sesuai dengan jenis kulit, tahapan proses penyamakan bisa berbeda. Kulit dibagi atas 2 golongan yaitu hide (untuk kulit berasal dari binatang besar seperti kulit sapi, kerbau, kuda dll), dan skin (untuk kulit domba, kambing, reptil dll). Jenis zat penyamak yang digunakan mempengaruhi hasil akhir yang diperoleh. Penyamak nabati (tannin) memberikan warna coklat muda atau kemerahan, bersifat agak kaku tetapi empuk, kurang tahan terhadap panas. Penyamak mineral paling umum menggunakan krom. Penyamak krom menghasilkan kulit yang lebih lemas, lebih tahan terhadap panas. Lewat proses penyamakan, dilakukan proses pemeraman yaitu menumpuk atau menggantung kulit selama 1 malam dengan tujuan untuk menyempurnakan reaksi antara molekul bahan penyamak dengan kulit (Anonim, 2009).
Proses penyelesaian (finishing) menentukan kualitas hasil akhir (leather). Terdiri atas beberapa tahapan proses yang bervariasi sesuai dengan jenis kulit, bahan penyamak yang digunakan, dan kualitas akhir yang diinginkan. Proses finishing akan membentuk sifat-sifat khas pada kulit seperti kelenturan, kepadatan, dan warna kulit. Proses perataan (setting out) bertujuan untuk menghilangkan lipatan-lipatan yang terbentuk selama proses sebelumnya dan mengusahakan terciptanya luasan kulit yang maksimal. proses perataan sekaligus juga akan mengurangi kadar air karena kandungan air dalam kulit akan terdorong keluar (striking out). Beberapa proses lanjutan lainnya adalah pengeringan (mengurangi kadar air kulit sampai batas standar biasanya 18 – 20 %), pelembaban (menaikkan kandungan air bebas dalam kulit untuk persiapan perlakuan fisik di proses selanjutnya), pelemasan (melemaskan kulit dan mengembalikan kerutan-kerutan sehingga luasan kulit menjadi normal kembali), pementangan (untuk menambah luasnya kulit), pengampelasan (untuk menghaluskan permukaan kulit). Kulit samakan bisa dicat untuk memperindah tampilan kulit (Anonim, 2009).
Menurut Romadona(2012) Standar mutu dari tiap produk dari kulit samak juga harus tetap dijaga. Standar mutu dari produk kulit samak sebagai berikut.
Tabel 1. Standar Mutu Produk Kulit Samak
No.
Uraian
Persyaratan
1.
Kimiawi :
1.1. Kadar air
1.2. Kadar minyak/lemak
1.3. Kadar zat larut dalam air
1.4. Kadar abu
1.5. Kadar krom oksida
1.6. Derajat penyamakan
1.7. pH

Maksimum 18%
(2 - 6)%
Maksimum 6%
Maksimum 2% diatas kadar Cr2O3
Minimum 2%
Minimum 25
3,5 – 7
2.
Fisis :
1.1. Tebal
1.2. Kekuatan Zwik
1.3. a). Kekuatan tarik
 b). Kemuluran pada waktu putus
2.4. Penyerapan air
     a). 2 jam
     b). 24 jam

0,7 – 1,2 mm
Nerf tidak retak
Minimum 100 kg/cm2
Maksimum 80%


Minimum 75%
Minimum 100%
3.
Organoleptis :
3.1. Nerf

Warna coklat muda dan rata
Sumber : Badan Standarisasi Nasional. 1989. Kulit Sapi atau Kerbau Samak Kombinasi Krom Nabati, Mutu dan Cara Uji. SNI 06-0484-1989. Jakarta : LIPI
Menurut isprmo (2012) kelebihan kelebihan kulit berdasarkan letaknya yaitu:
1.      Bagian punggung
Bagian kulit yang letaknya ada pada punggung dan mempunyai jaringan struktur yang paling kompak; luasnya 40 % dari seluruh luas kulit
2.      Bagian leher
Kulitnya agak tebal, sangat kompak tetapi ada beberapa kerutan
3.      Bagian bahu
Kulitnya lebih tipis, kualitasnya bagus, hanya terkadang ada kerutan yang dapat mengurangi kualitas
4.      Bagian perut dan paha
Struktur jaringan kurang kompak, kulit tipis dan mulur.
Walaupun proses pengolahan atau pengawetan kulit telah dilakukan dengan hati-hati dan menurut ketentuan yang benar, namun ternyata hasilnya tidak selalu seperti yang diharapkan. Kemungkinan setelah kering, kulit menjadi tidak sama kualitasnya. Dalam perdagangan, kulit dapat dikelompokkan/ dikelaskan berdasarkan kualitas dan beratnya (Isparno, 2012).


C.  KULIT KAMBING
Kambing merupakan salah satu jenis ternak kecil di Indonesia, yang mempunyai peranan penting bagi manusia. Kambing dapat dimanfaatkan oleh manusia melalui konsumsi daging yang mempunyai protein tinggi dan kulitnya dapat dijadikan sebagai bahan baku dalam industri kulit (Ningrum, 2013).
Semua umat muslim di dunia pada saat itu melaksanakan berbagai ibadah salah satunya adalah ibadah Haji yang dilaksanakan setiap setahun sekali dan pemotongan hewan Qurban (kambing, domba, dan sapi). Namun setelah hewan-hewan tersebut selesai dipotong, akan dibawa kemana kulit-kulit tersebut? Mungkin sebagian orang belum menyadari bahwa bisnis kulit kambing dapat meraup keuntungan bersih perbulan hingga 20-30 juta/bulan. Meski banyak alternatif kulit binatang dipasaran untuk dijadikan bahan baku produk, kulit kambing dan domba masih menduduki peringkat permintaan tertinggi. Kualitas prima menjadi alasan utama kulit itu diminati. Tak hanya pasar dalam negeri, permintaan dari luar negeri terus berdatangan. Bahkan, dari negara-negara di Eropa dan Amerika (Anonim, 2012).
Kulit domba dan kambing memang terkenal akan kualitasnya yang prima jika digunakan sebagai bahan baku produk. Selain itu, kulit domba dan kambing memiliki tingkat kelembutan yang tinggi. Sehingga, kulit ini menjadi pilihan bahan baku produk yang paling digemari para konsumen.
Dan terdapat perbedaan dari masing-masing jenis kulit tersebut, seperti ( Anonim, 2012) :
1.    Kulit Sapi banyak dikonsumsi masyarakat luas, kulitnya banyak dibutuhkan dalam industri kerajinan, karena kepadatan kulitnya yang memberikan kekuatan, ukurannya lebih lebar, tebal dan hasilnya lebih mengkilat. Bahkan bagian dalam kulit hasil split dapat diperdagangkan secara terpisah,misalnya untuk pakaian dalam yang tipis tetapi cukup kuat.
2.    Kulit kerbau tidak jauh beda dengan kulit sapi, baik dari ukuran, kekuatan, dan keuletannya. Hanya saja kulit kerbau lebih tebal sedikit dibanding kulit sapi.
3.    Kulit Kambing banyak terdapat di Indonesia dan digunakan sebagai bahan baku pembuatan barang kerajinan. Ukurannya tidak terlalu lebar, sekitar 28 x 28 cm dengan hasil samakan mengkilap dan ada pula yang berwarna. Kualitasnya berbeda-beda berdasarkan jenis kulit hasil pengolahannya.
4.     Kulit Domba, Selain ukurannya yang agak kecil dan bentuknya memanjang, kulit domba tidak banyak berbeda dengan kulit kambing.
Lalu bagaimana apakah anda tertarik untuk terjun ke bisnis kulit mentah seperti kulit kambing, domba atau sapi? Tetapi niat dan ketekunan tentu sangat dibutuhkan dalam menjalani bisnis ini, karena pasalnya seperti bisnis-bisnis lain, aroma persaingan sangat kental dalam bisnis ini. Tetapi untung yang ditawarkan sangatlah sebanding dengan persaingan yg kita hadapi.
Kulit kambing banyak terdapat di Indonesia dan digunakan sebagai bahan baku pembuatan barang kerajinan. Karena tidak asing bagi masyarakat luas dan mudah dicari hasil samakanya di toko-toko, harganya pun menjadi agak murah. Ukurannya tidak terlalu lebar, sekitar 28 x 28 cm dengan hasil samakan mengkilap dan ada pula yang berwarna. Kualitasnya berbeda-beda berdasarkan jenis kulit hasil pengolahannya. Kulit ini disukai para pengusaha (kerajinan) kulit sebab mudah dalam penggarapannya (Isparmo, 2012).
METODOLOGI PRAKTIKUM
A.  Waktu Dan Tempat
Praktikum Teknologi Pengolahan Hasil Ternak mengenai Penyamakan Kulit dilaksanakan Pada Hari Selasa-Kamis, 16-18 April 2013 Pukul 14.00-selesai secara bertahap dengan jadwal jam yang berbeda-beda, Bertempat di Laboratorium Teknologi Hasil Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Hasanuddin, Makassar.
B.  Alat Dan Bahan
Alat yang di gunakan dalam praktikum teknologi pengolahan hasil ternak mengenai Penyamakan Kulit yaitu, pisau, Ember, pengaduk kayu, timbangan, gelas ukur, gelas biasa, stopwatch, pipet tetes, papan jemur.
Bahan yang di gunakan dalam praktikum pengolahan hasil ternak mengenai Penyamakan Kulit adalah kulit kambing mentah, air, garam, asam cuka, asam asetat, tannin, Na2CO3.
C.  Prosedur Kerja
Prosedur kerja penyamakan kulit dari kulit kambing adalah menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan, kemudian mencuci kulit kambing segar dengan air, karena jenis penyamakan yang dilakukan penyamakan poor maka bulu pada kulit akan tetap dipertahankan. Selanjutnya mengeluarkan lemak yang ada pada kulit, selanjutnya kulit yang sudah dibersihkan lemaknya dicuci kembali kemudian menimbangnya untuk mengetahui berat kulit, kegunaan penimbangan ini bertujuan sebagai bahan penghitung terhadap bahan-bahan kimia yang akan ditanbahkan. Pertama menambahkan campuran air dan garam kedalam ember yang berisi kulit dan mengaduknya dengan cara memutar selama 10 menit, setelah itu dilanjutkan dengan menambahkan campuran air dan asam cuka dan diaduk selama 30 menit, setelah itu megaduk selama 15 menit dan tiap 5 menitnya ditambahkan asam asetat yang sudah ditakar sebelumnya, kemudian kulit digantung selama semalam. Proses selanjutnya adalah mengaduk kulit kembali selama 2 jam dengan menambahkan cairan tannin yang sudah ditakar. Selanjutnya menambahkan Na2CO3 yang telah dilarutkan dengan air dan sudah ditakar dan dilakukan secara bertahap selama 15 menit. Setelah itu dilakukan pemeraman atau aging selama 1 malam dan keesokan harinya dijemur dilnjutkan dengan penilaian dan penghitungan randemen.










HASIL DAN PEMBAHASAN
A.  Penilaian Organoleptik
Berdasarkan hasil uji organoleptik terhadap kulit samak kambing yang telah dibuat maka diperoleh hasil sebgai berikut
Tabel 1. Hasil Uji Organoleptik Penyamakan Kulit Kambing
No
Panelis
Parameter
Kepadatan bulu
Kerontokan
Penampilan poor
Kelemasan
1
Faisal
5
4
3
2
2
Tirta
5
4
2
2
3
Anti
5
4
2
1
4
Masyita
4
5
3
2
5
tuti
4
4
1
1
Sumber: Data Hasil Praktikum Penyamakan Kulit Kambing, 2013

keterangan:
kepadatan bulu:   1. Kurang padat             kerontokan: 1. Kurang kuat
             2. Agak padat                                       2. Agak kuat
             3. Cukup padat                                    3. Cukup kuat
       4. Padat                                                 4. Kuat
       5. Sangat padat                                     5. Sangat kuat

Penampilan poor:  1. Tidak menarik          Kelemasan:  1. Tidak menarik
                                2. Kurang menarik                             2. Kurang menarik
                                3. Cukup menarik                               3. Cukup menarik
                                4. Menarik                                           4. Menarik
                                5. Sangat menarik                               5. Sangat menarik

Berdasarkan tabel diatas megenai penyamakan kulit, maka diperoleh hasil bahwa kepadatan didapatkan hasil sangat padat, kerontokan didapatkan hasil kuat, penampilan poor kurang menarik, dan kelemasan didapatkan hasil kurang menarik. Berdasarkan hasil penilaian tersebut maka dapat dijelaskan bahwa kualitas kulit samak yang dihasilkan kurang baik dan kurang diminati, hal tersebut tidak sesuai dengan pendapat Anonim (2012) yang menyatakan Kulit domba dan kambing memang terkenal akan kualitasnya yang prima jika digunakan sebagai bahan baku produk. Selain itu, kulit domba dan kambing memiliki tingkat kelembutan yang tinggi. Sehingga, kulit ini menjadi pilihan bahan baku produk yang paling digemari para konsumen.
Hal tersebut tidak sesuai dengan pendapat Isparno  (2012), yang menyatakan walaupun proses pengolahan atau pengawetan kulit telah dilakukan dengan hati-hati dan menurut ketentuan yang benar, namun ternyata hasilnya tidak selalu seperti yang diharapkan. Kemungkinan setelah kering, kulit menjadi tidak sama kualitasnya. Dalam perdagangan, kulit dapat dikelompokkan/ dikelaskan berdasarkan kualitas dan beratnya.
B.  RANDEMEN

Nilai randemen adalah nilai yang diperoleh  dari pengurangan berat awal dengan berat akhir dibagi dengan berat awal dikali 100 %. Sehingga diperoleh hasil nilai randemen dari kulit kambing yang disamak adalah  60, 98 %.





PENUTUP
A.Kesimpulan         
Berdasarkan praktikum teknologi pengolahan hasil ternak yang telah dilakukan mengenai penyamakan kulit kambing maka dapat disimpulkan bahwa kepadatan kulit sangat padat, kerontokan bulu kuat, penampilan poor kurang menarik, dan kelemasan kulit kurang menarik. Nilai randemen dari kulit kambing yang disamak adalah  60, 98 %
B.Saran
Sebaiknya dalam menggunakan atau mencampurkan bahan-bahan tambahan atau bahan kimia harus sesuai dengan proporsi yang sebaik-baiknya sehingga hasil yang didapatkan bisa sesuai dengan harapan dan tujuan yang ingin dicapai.







DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2009Menyulap Kulit Jadi Duit “Penyamakan Kulit”. http: //bisnisukm. com/ menyulap-kulit-jadi-duit-penyamakan-kulit. html. Diakses April 2013.
Anonim. 2012. bisnis kulit kambing dikala lebaran haji. http: //ekonomi. kompasiana. com/ wirausaha/2012/10/23/bisnis-kulit-kambing-dikala-lebaran-haji-503060.html. diakses April 2013.
Anonim. 2013. Tinjauan Pustaka. Institut Pertanian bogor.

Isaparmo. 2012. Jenis-Jenis Bahan Jaket Kulit. http: //www. jaketkulitonline. biz/ 2012_01_01_archive. html. diakses april 2013.

Ningrum, Endah Murpi. 2013.  Kajian Pemanfaatan Lemak Ayam Ras Pedaging Dan Minyak Kelapa Sebagai Bahan Perminyakan Kulit Samak Kambing. Jurusan Produksi Ternak Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin, Makassar.

Romadona, Doni. 2012. Industri Penyamakan kulit Sapi. http: //dony-romadona. blogspot. com/ 2012/ 11/ industri- penyamakan- kulit- sapi _7053. html. Diakses April 2013.










LAMPIRAN
·         Perhitungan uji organoleptik penyamakan kulit kambing
kepadatan bulu      = ((3(5) + 2(4)) /5              = 4,6 = 5
kerontokan            = ((4(4) + 1(5)) / 5             = 4,2 =4
penampilan poor   = ((2(3) + 2 (2) + 1(1)) / 5 = 2,2 = 2
kelemasan             = ((3(2) + 2(1))/5                 = 1,6 = 2

·         perhitungan nilai randemen
berat awal – berat akhir
                                                                x 100 % =
   berat awal

·      penggunaan cairan tannin = (23/100) x 246 = 56, 58
·      penggunaan Na2CO3=(1/100) x 246 = 2,46

2 komentar: